Masalah Gizi Di Indonesia

Masalah gizi di indonesia merupakan hal yang sangat kompleks dan sangat penting. Selama 10 tahun terakhir polemik penanganan gizi untuk masyarakat indonesia juga tak kunjung hentinya terkhusus untuk gizi anak dan balita. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di indonesia semakin meningkat, hal ini tidak sebanding dengan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Menurut PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) sejak tahun 2006 hingga sekarang masalah kurang gizi anak seperti penyakit anemia, kurang vitamin A, dan kurang vitamin D menjadi perhatian bagi pemerintah dan kalangan akademisi. Disebutkan bahwa kasus anemia meningkat dari awalnya 25 persen menjadi 27,7 persen. begitupun dengan kasus kekurangan vitamin A sebanyak 11% dan kekurangan iodium sebanyak 12%. Sehingga South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) melakukan studi tentang status gizi di 4 negara di ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Studi ini dilakukan selama 12 bulan yang bertujuan meneliti status gizi, pertumbuhan, pola pola makan serta asupan gizi anak-anak rentang usia 6 bulan hingga 12 tahun.

Penyebab utama masalah kurang gizi tak kunjung tuntas diataranya karena faktor kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan  yang kurang, kesempatan bekerja yang tak pasti serta pelayanan kesehatan yang kurang memadai.

Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Jika berdasar pada makna tersebut maka kehidupan kemiskinan di indonesia masih menghantui setiap warganya. Data statistik 2013 disebutkan bahwa saat ini ada sekitar 28,59  juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan. Sekitar 8,5% dari jumlah seluruh warga indonesia. Tentunya data ini masih sangat jauh dari visi MDGs yang dibuat sejak tahun 2000. Olehnya itu, masalah gizi dalam negeri masih menjadi polemik karena kebutuhan pangan yang seimbang harus disesuikan dengan biaya yang akan dikeluarkan. jika tidak memiliki biaya bagaimana mungkin membeli makanan bergizi yang harganya diatas standar untuk memenuhi kecukupan gizi seseorang.

Chapter 1. Masalah Gizi Di Indonesia

Kehidupan dalam tataran kemiskinan akan sejalan dengan pendidikan yang diraihnya. Semakin seseorang berada dalam status kemiskinan maka pendidikan yang akan diraihnya akan semakin dibawah standar. Standar yang dimaksud adalah wajib bersekolah selama 9 tahun yakni sekolah dasar sampai  sekolah menengah pertama. Hal ini sejalan dengan data pendidikan tahun 2010 sebanyak 1,3 juta anak usia 7-15 terancam putus sekolah. ini disebabkan karena faktor kemiskinan yang melanda dikeluarga mereka. fakta menyebutkan jangankan perlengkapan sekolah, untuk makan sesuap nasi pun anak tersebut susah mendapatkannya. Sehingga mereka rela meningglkan sekolah untuk mencari biaya makan setiap hari. Jika hal ini dibiarkan maka untuk mendapatkan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi jauh dari harapan. Karena hanya dengan mendapatkan pendidikan yang layak melalui bangku sekolah seseorang akan berubah pemikirannya tentang pentingnyamengkonsumsi makanan yang bergizi.

Masalah Gizi Di Indonesia  Akhir-Akhir ini Menjadi Fokus Hangat Pembicaraan Bagi Kalangan Nutrisionis

Masalah Gizi Di Indonesia Akhir-Akhir ini Menjadi Fokus Hangat Pembicaraan Bagi Kalangan Nutrisionis

Pendidikan yang tuntas mendorong seseorang untuk memilih pekerjaan yang layak dengan gaji yang sesuai dengan standar. Namun bila kesempatan bekerja masih terbatas dengan syarat minimal tamatan sarjana maka untuk meraih hal tersebut akan sangat sulit diraih. Mengingat jumlah tamatan sma masih minim. Dengan kondisi ini untuk menyediakan pangan yang berkualitas masih jauh dari harapan. Sehingga untuk mendapatkan gizi yang seimbang masih sangat jauh.

Masalah ini semua tentunya menjadi perhatian disemua pihak dan multi sektor. Semua elemen masyarakat harus berbenah dari sekarang, harus lebih optimis menghadapi semua. Butuh kekuatan dan niat yang suci untuk menuntaskan masalah ini semua. Kesadaran akan saling membangun dan memotivasi perlu diterapkan. dan membuang jauh-jauh sifat katamakan akan saling mengkambing hitamkan antar lembaga maupun individu. Dengan jalan seperti ini cita-cita para founding father dalam pembukaan uud 45 dapat tercapai.

Abd. Rahman Rara

Abd. Rahman Rara

Abd. Rahman Rara.