Makanan dan Gizi

Makanan dan Gizi merupakan dua kata yang berbeda namun memiliki satu keterkaitan yang sangat erat. ketika seseorang membicarakan tentang makanan maka mindset berpikirnya akan mengarah manfaat dari makanan tersebut yang ujug-ujungnya juga akan membicarakan tentang gizinya. begitupun sebaliknya ketika seseorang membicarakan tentang gizi maka orang tersebut pasti akan mengidentikkan tentang asal dari gizi itu diperolah dari mana, yang jawabannya pun berasal dari makanan. Sehingga kedua kata ini tidak boleh dipisahkan, hal ini berhubungan erat tentang dasar seseorang melakukan terapi diet makanan demi menjaga tubuh agar tetap fit dan sehat selalu. Dengan dasar tersebut dibawah ini akan dijelaskan keterkaitan makanan dan gizi.

Chapter 1. Makanan dan gizi

Segala sesuatu yang kita masukkan kedalam mulut dan berfungsi menjaga kelangsungan hidup dinamakan makanan. Oleh karena fungsinya itu, makanan yang masuk ke dalam mulut atau dikonsumsi harus berupa makanan yang memenuhi standar gizi yang seimbang. Makanan yang bergizi paling tidak memenuhi empat sehat lima sempurna. Secara umum empat sehat lima sempurna terdiri dari nasi, sayur, lauk, pauk dan susu. Makanan-makanan tersebut cukup lengkap untuk memenuhi bergabagai komponen yang diperlukan tubuh.

Sejak zaman purba manusia telah menyadari pentingnya makan untuk kelangsungan hidup. Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik dapat memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.

Gizi dipandang oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang sudah ada dengan sendirinya dan mungkin terlupakan bahwa gizi diperlukan untuk memberikan bahan bakar bagi otot-otot rangka yang menggerakkan tubuh, bagi otot-otot pernapasan, dan bagi otot jantung. Bagi sebagian lainnya, gizi yang sehat merupakan obsesi dan menentukan semua makanan yang akan dikonsumsinya. Sebaliknya, apabila makananan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu sehingga tubuh mengalami status gizi kurang.

Telah diketahui bahwa masalah gizi lebih banyak terjadi pada kelompok masyarakat di daerah pedesaan yang mengkonsumsi bahan pangan yang kurang, baik jumlah maupun mutunya. Sebagian besar dari masalah tersebut disebabkan oleh faktor primer dan sekunder. Faktor primer yang dimaksud lebih condong pada kualitas dan kuantitas susunan gizi yang terkandung dalam setiap makanan. Seperti kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, dan kebiasaan makan yang salah. Sedangkan Faktor sekunder meliputi semua faktor yang menghambat zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah makanan dikonsumsi. Contohnya  gigi geligi yang tidak baik, kelainan struktur saluran cerna, dan kekurangan enzim.

Ada dua masalah yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan akademisi terkait hubungan makanan dan gizi mempengaruhi kualitas hidup yaitu kurang gizi dan gizi lebih.

Kurang gizi dapat menjadi lingkaran setan untuk kualitas manusi. Balita yang kurang gizi biasanya akan mengalami hambatan pertumbuhan terutama apabila konsumsi makanannya tidak cukup dan pola asuh tidak benar. Oleh karena itu, balita kurang gizi cenderung tumbuh menjadi remaja yang mengalami gangguan pertumbuhan, perkembangan intelektual, dan mempunyai produktivitas rendah. Jika remaja ini tumbuh dewasa akan menjadi dewasa yang pendek dan untuk wanita akan mempunyai resiko melahirkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah).

piramida makanan dan gizi yang harus terkait antara satu dan yang lainnya demi mewujudkan kondisi tubuh yang fit dan sehat

piramida makanan dan gizi yang harus terkait antara satu dan yang lainnya demi mewujudkan kondisi tubuh yang fit dan sehat

Selain gizi kurang, gizi lebih atau obesitas menjadi masalah baru dalam dunia saat ini. Fenomena diberi nama “new world syndrom” atau sindrom dunia baru. Seseorang yang mengalami obesitas cenderung mempunyai resiko lebih besar untuk menderita berbagai masalah kesehatan seperti arthritis, infertilitas, dan menurunnya fungsi psikososial. Sementara pada anak-anak, obesitas dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti gangguan metabolisme glukosa, retensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan gastrointestinal, dan obstruksi pernafasan.

Melihat kenyataan seperti paparan diatas maka sudah semestinya kita memilih pola makan gizi seimbang untuk memenuhi zat-zat gizi dalam tubuh. Selain itu, penerapan pola makanan gizi seimbang juga untuk menghindarkan diri berbagai penyakit yang timbul akibat gizi kurang dan gizi lebih. Sehingga produktifitas kerja dan kualitas hidup dapat tercapai.

Abd. Rahman Rara

Abd. Rahman Rara

Abd. Rahman Rara.